Saturday, May 29, 2010

(Lagi-lagi ke) Batu Layar



Setelah Desaru selesai, tanggung dah sampai daerah pantai, kami kemudian meluncur ke arah selatan sekira 10 km menuju Pantai Batu Layar. Disitu terdapat batu semacam layar kapal berlapis-lapis.

Batu Layar. Tempat inilah tahun 2008 kami kemah 1 malam di tenda, malam kedua (bonus) tidur beralas tikar dan beratap langit, karena sewa bumi kemah cuma 1 malam, tenda dan semua perlengkapan sudah dikemas. Sayangnya sore mau pulang mobil mogok gakmau jalan, takada bengkel, tidurlah seadanya, alhamd gak hujan.

HP istri yang dual SIM, bisa dapat sinyal TELKOMSEL indonesia (seberang pulau kayaknya Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia), akhirnya kita nelpon Indonesia sepuasnya dengan tarif murah sesama simpati.

Kami lalu balik lagi arah utara dan rehat sejenak di Tanjung Sedili, tempat kami kemah awal bulan ini.

Kemudian balik ke Skudai lewat Kota Tinggi-Kulai-Senai-Skudai, ambil jalan yang berbeda saat berangkat (Skudai-Senai-Ulu Tiram-Kota Tinggi-Bandar Penawar-Desaru)

(Lagi-lagi ke) Desaru





Libur 3 hari (Jumat-Ahad) 28-30 mei 2010, istri datang ke Johor. Penasaran hanya denger cerita dariku yang pernah kesana, dia lantas mengajak ke Desaru, padahal dah saya bilang lautnya sama saja dengan laut2 di tempat lain.

Takut macet seperti hari2 libur biasanya arah Desaru, kami berangkat pagi habis Shubuh pakai Kancil, alhamdulillah lancar lewat tol Senai-Ulu Tiram (ruas Ulu Tiram-Kota Tinggi-Desaru sedang dibuat) yang baru dan sepi, perjalanan sekira 2 jam. Alhamdulillah Kancil kesayangan kami melesat dengan indah hehe.

Sesampainya di Desaru masih agak pagi, sekira jam 8, pun demikian pengunjung sudah agak ramai. Sekira 1 jam saja kami disitu, melihat pantai dan memakan bekal yang telah disiapkan.

Monday, May 24, 2010

Defend dan review progress proposal TF

Hari ini 24 Mei 2010 Dr Azizan dari MoA datang ke UTM untuk mereview progress proposal TechnoFund kita.

Kami mesti mempresentasikan proposal lengkap kita dan (jika ada) diminta perbaiki sesuai dengan arahan beliau.

Alhamdulillah, semua lancar. Cuma terbayang masih banyak yang harus dikerjakan/perbaiki, P jef kasihan sama saya karena fokus terpecah antara technofund dan thesis, akhirnya beliau meminta kesediaan P Anton untuk datang ke Malaysia, yang penting bisa, masalah tiket dibelikan. Alhamdulillah memang sudah terbukti beliau selalu baikan, alhamdulillah ya Rabb.

Wednesday, May 19, 2010

Masih perlu kejelasan, jangan ragu tanya lagi....

Alhamdulillah, cerita baik urus tiket di kaunter

Saya membeli tiket airasia utk rombongan 7 orang melalui internet banking. Belum beruntung bagiku, rasanya baru kali ini terjadi, payment successful tapi booking NOT CONFIRMED, whelhadala. Mungkin karena koneksi yang lambat atau user yang akses sangat ramai. Ditunggu hingga esok hari, tetep tak ada tiket datang ke akaun email saya.

Akhirnya saya pergi ke kaunter Airasia di Senai Airport. Dengan pertimbangan sayang kalo harus kehilangan uang, apalagi kalo harus booking lagi yang mungkin harganya sudah naik, kalo bisa janganlah... Bermodalkan print out booking yang Not Confirmed dan bukti payment successful dan rincian rekening telah terdebet, saya jumpa dengan staf1. Malangnya nasibku, staf bilang: booking telah dinyatakan not confirm, wang tidak diterima walaupun succesful terkirim, tunggu aja nanti uang akan kembali kepada akaun anda (dah automatik, takpayah urus di bank), kalo mau tiket sila booking lagi via internet, lewat sini harganya beda (lbh mahal). Wah, macam mana nih, misi gagal.....

Termenung diriku di kursi antrian, memikirkan apa memang gak ada solusi yang lebih baik ya. Okelah, akhirnya saya ikhlaskan kalo sistem memang begitu. Tapi, ada satu yang perlu saya minta kejelasan tentang refund. Takut refund gak segera sampai, sementara di Bank di-pingpong ke Airasia lagi, padahal Airasia dah bilang gaknerima uang, akhirnya saya beranikan diri ke kaunter lagi untuk minta penjelasan lagi pasal refund, ditemui staf2.

Alhamdulillah, niatnya cuma nanya pasal refund, minta cop atau keterangan bahwa Airasia memang tidak nerima uang utk bukti urus ke bank jika diperlukan, tapi ternyata Allah berikan lebih dari itu. Ada pertolongan yang lebih besar pada diriku lewat staf tsb. Dia beberapa kali call bagian yg ngurusin payment (perkiraan saya begitu) dan setelah itu beberapa lama kemudian setelah menunggu di antrian lagi, akhirnya dinyatakan bahwa semua masalah akan diuruskan, dan yang lebih penting lagi tidak perlu booking ulang dan tiket akan dikirim email. Alhamdulillaahi Rabbil Aalamien.....

hikmah: nggak ada salahnya jika masih ragu, jangan keburu putus asa dan pergi, tanyakan lagi minta kejelasan shg clear/detail atau bahkan ada 2nd opinion utk solusi yg lebih baik.

Sunday, May 9, 2010

hikmah....... jika gakmau repot

Ini hikmah bagi kami, semoga kejadian seperti ini tak terulang.

Ceritanya, kami datang mepet/lambat ke Airport, sekira 30 menit sebelum keberangkatan, karena ada beberapa urusan penting lainnya (Hikmah1: jangan mepet2 kalo ke airport). Saat masuk, sempat diingatkan sejenak oleh petugas bandara; counter check in telah ditutup. Tapi, kami masih bersyukur dan bernapas lega bisa njelaskan dan tunjukkan, kami telah checkin online via internet (Hikmah2: web checkin sangat membantu, paling tidak gakperlu ngantri checkin di bandara).

Walau counter telah tutup, masih ada staf di ruang maskapai yang bersangkutan, kami datangi dan memastikan bahwa kami dah check in, perlu di-cop gak atau gimana? Jawab staf: gakperlu, langsung aja masuk ruang tunggu. (tentu mesti urus airport tax, bebas fiskal, imigrasi). (Hikmah3: tetep tanya petugas untuk memastikan tidak perlu kembali ke posisis awal). Hal ini membantu kami, saat melewati X-ray, petugas mempertanyakan boardingnya mana, kok kayak gini, gakada keterangan dari petugas. Juga saat mau meninggalkan ruang tunggu menuju pesawat, petugas juga mempertanyakan hal ini.

Saat bayar Airport tax takda masalah, tinggal bayar aja (mbayar mah gampang, kalo ngambil uang mah yang agak susah), walau sedikit ada keraguan mereka melihat boarding pas online yang kayak gini, mungkin mereka belum familier.

Urus bebas fiskal, selama ini dari Jogja dan lainnya, sangat mudah. Mereka hanya liat dan cek dari paspor kita, asal ada visa negara lain biasanya beres, kadang juga dilihat sudah berapa lama kita di Indonesia, mungkin untuk memastikan bahwa kita memang lama di LN. Ternyata untuk kali ini, disaat waktu yg sangat mepet, urusannya malah rada ribet. Petugas meminta fotokopi paspor (halaman depan, visa, cop kedatangan, alamat Ind, alamat LN) walah kok ribet kayak gini, protes saya. Petugas bilang: bukan ribet, tapi mesti fotokopi karena scanner kami rusak. Saya benernya masih akan protes tapi keburu waktu mepet, istri langsung ngajak lari keluar ke lantai 1 cari fotokopi. (Hikmah4: gak usah banyak protes disaat waktu mepet untuk urusan kayak ginian).

Cuma saya masih sedih: 1. apa memang harus begitu, ninggalin copy-an atau apa memang harus di-scan data-data kita, kok beda dengan airport lain. 2. misal kalo memang benar bahwa biasanya paspor penumpang mesti di-scan, kalau saat itu scanner sedang rusak, masak kerusakan yang terjadi mengalihkan tanggungjawab ke penumpang dengan menyuruh keluar untuk cari fotokopi. 3. Lagipun, ini juga yang saya gaksuka pelayanan yang kadang dengan harga semaunya, copy 10 halaman saja Rp 20.000. (Hikmah5: gakada salahnya kita punya copy halaman-halaman yang sekiranya penting).

Pas urus bebas fiskal selesai, pas ada pengumuman pesawat datang, maknanya sebentar lagi kita diminta naik peswat. Alhamdulillah, cop imigrasi lancar, X-ray ada sedikit masalah karena petugas kayaknya belum familier dengan boarding pass hasil web check ini via internet, tapi alhamdulillah dengan mepet2nya waktu dan urusan2 yang takdiguga sebelumnya, akhirnya bisa terbang juga, lega rasanya.

Saturday, May 8, 2010

Jalan2 ke Pekanbaru





Pekanbaru, 7-9 Mei 2010

Disela-sewla kesibukan belajar, sekalian untuk refreshing, saya dan istri jalan2 ke Pekanbaru, Riau. Berangkat Jum'at siang dan balik Ahad sore, penerbangan cuma 45 menit. Seperti biasa, kami dah beli tiket murah AirAsia beberapa bulan lalu, RM 70 (sekira Rp 200 ribu) sudah tiket pulang pergi untuk 2 orang.

Pernah saya sekira 6 bulan pada tahun 1999 dan 2001 saya kerja di PT CPI Duri Riau (sekira 3 jam perjalanan darat dari Pekanbaru), selama itu pula saya sering pulang kampung tiap sabtu-ahad ke rumah kakak.

So, tujuan utama kali ini adalah mengajak istri silaturahmi ke rumah mas/kakak laki2 (=abang) pertama yaitu mas Suparno yang tinggal di Kecamatana Sialang Kubang, Kab. Kampar (sekira 40km ke Pekanbaru).

Tujuan yang lain yang juga utama adalah jalan2 di kota Pekanbaru dan jalan2 di kebun kelapa sawit sebagai usahanya Mas No. Alhamdulillah usahanya berkembang pesat dan menggembirakan hasilnya.

9 tahun berlalu, banyak perubahan telah terjadi. Kota Pekanbaru semakin tertata lumayan rapi, tapi kemacetan karena banyaknya kendaraan takbisa dihindari. Juga, jalan masuk ke rumah mas No kini telah beraspal halus, alhamdulillah.

Sunday, May 2, 2010

Desaru dan Sedili, camping ah...






1-2 Mei 2010 Camping di Sedili dan jalan2 di Pantai Desaru

Jepretan gaya anak-anak muda hehehe....

Monday, April 5, 2010

Alhamd kampungku skrg dah ada PAM

Alhamdulillah kabar baik waktu pulkam, sekira sebulan/dua bulan lalu, sumur bor yang dibangun di pinggir kampung kami di Sragen telah sukses dibangun. Jalur pipa air dah siap semua hingga ke rumah-rumah, alhamdulillah kehidupan kampung kami semakin baik.

Rumah kami ada sumur 2, alhamd makin banyak pilihan dan kemudahan.

Sunday, April 4, 2010

ponakan lagi,...


ini ponakan yang lain...

Wednesday, March 31, 2010

Pulkam tengok ponakan


31maret-11april 2010

Pulang kampung nengok ponakan-ponakan yang sudah tambah besar, pinter, dan lutju banget. alhamdulillah seneng banget

Friday, March 26, 2010

me-Rontgen (X-ray) ikan


Inilah salah satu aktivitas kami dalam riset, alhamdulillah ikan kami sehat-sehat aja gak perlu dioperasi hehe

Thursday, March 11, 2010

Monitoring Proposal TechnoFund by MoA

Tanggal 11-12 Maret 2010 ada workshop oleh team kementrian pertanian (MoA) yang dikomandani Dr. Azizan. Kami semua yang berminat apply proposal dikumpulkan untuk apat pemahaman penuh tentang proyek ini dan diminta mempresentasikan proposal kita.

Karena minggu2 terakhir sangat-sangat suibuk berkali2 meeting di electrical dan computer science (collaboration research) dan lemburan buat proposal, maka submit thesis sementara dilupakan dulu.... Rencana submit thesis jika mengikut rencana yang kita buat 3 bulan yang lalu adalah 10 Maret.

Yah, nak gimana lagi..... mengalir sahaja

Saturday, February 20, 2010

Tmn Tamadun Islam Terengganu


20-21 Feb 2010 antar istri ke Terengganu, karena jalan2 dia sebelumnya ada yang tersisa belum dikunjungi, yaitu Taman Tamadun Islam dengan puluhan masjid miniatur masjid-masjid dunia beserta Masjid Crystal. Alhamdulillah dah genggam tiket flight murah berdua return total cuman RM 30.

Sunday, February 14, 2010

Adik Suranto dan istri jalan2 ke Malay dan Spore


13-17 Feb 2010
Adik kandungku Suranto dan istri jalan2 ke Malay dan Spore.
kami antar mereka ke KLCC Petronas Twin Towers, Chinatown, Pasar Seni, Genting Highland, UTM Skudai Johor, Patung Singa Spore, dll cerita detail kapan2 aja ya.

Sementara saya upload foto mereka berdua ditemeni istri yang sedang beraksi jadi kura-kura ninja hehehe saat liat film dokumenter 3D tentang Petronas sebelum naik ke lantai 41 di Skybridge KLCC.

Tuesday, February 2, 2010

Thesis jadi No 2, Buat proposal TechnoFund No 1

Sebenarnya supervisor awalnya gak berminat untuk terlibat dalam proyek lagi, padahal proyek terakhir (penyu) sudah habis Agustus 2009.

Gak tahu kenapa pula, tiba-tiba begitu ada info bahwa MoA (Ministry of Agriculture) punya skim proyek TechnoFund (lebih tinggi dari ScienceFund), usulan dana bisa s.d RM 5juta, beliau sangat antusias dan meminta saya yang mbuat [Anton di Jogja, takmungkin student lain yg bisa buat karena ini kelanjutan proyek yg kita tanganai berdua]. Wah, alamat bimbingan intensif thesisku jadi berantakan nih.

Akhirnya disepakati, untuk sementara mulai awal Feb ini, bimbingan thesis mesti berbagi dengan bimbingan pembuatan proposal, justru diutamakan proposal technofund, sebab 11 Maret akan ada tim dari MoA akan datang dan menilai proposal kita..... waduw, fening kepale.... submit thesis yang sedianya bulan depan jadi tanda tanya nih.

Tapi, bismillah, semoga Allah akan selalu bimbing dan tunjukkan yang terbaik, yg penting maksimalkan doa dan ikhtiar.

Saturday, January 23, 2010

welcome to Thailand


Saatnya jalan2 nyebrang ke Thailand lewat border Rantau Panjang Kelantan. Batas keduanya hanya jembatan panjang sekira 30 meter, bisa menyebrang naik ojek atau bahkan jalan kaki pun bisa seperti kami......

Kota terdekat adalah Sungai Golok,
cerita detail dilengkapi kapan2 aja,
soalnya masih sok sibuk dikit....

Landing di Kelantan, kok sepi ya


Petualangan baru dimulai lagi.....

Mau ngubek2 Kota Bharu (Negeri Kelantan), Rantau Panjang, dan masuk Thailand.....

Saat landing di airport Sultan Yahya Petra, kesan pertama: kok sepi ya, orang dikit banget, pada kemana ya....

Saturday, January 2, 2010

Kota Sabang (Pulau Weh) ujung barat Indonesia



Gak terencana dari Aceh, begitu di Pantai Ulee Lheue kok liat kapal feri siap berangkat. Tanya orang kapal mau kemana? Dah, takpikir panjang akhirnya kami ikutan ajalah lah. Alhamdulillah nyampe juga diriku di Kota Sabang, Pulau Weh. Ujung barat Indonesia.....

Cerita Aceh dan Pulau Weh....
mohon maaf belum sempat dilengkapi,
ada gawean sekolah belum selesai

Pelabuhan Ulee Lheue, eh ikut kapal yuk.....





Nama Pelabuhan Ulee Lheue sering kita dengar adalah merupakan salah satu pantai yang terburuk dihantam tsunami Aceh 2004. Lokasinya sekira 10 km dari pusat kota Banda Aceh. Kami naik labi2 (angkot) dari terminal Keudah yang dekat dengan hotel ke Pelabuhan Ulee Lheue bayar seorang Rp 6000, sekira 20 menit. Angkot disini penumpang berada di belakang.

Pelabuhan Ulee Lheue kini sudah berbebah jadi bagus, walaupun pembangunan masih berjalan dan belum selesai. Rumah-rumah baru semua, awalnya habis kena tsunami seperti disiarkan dalam televisi maupun surat kabar, juga gambar2 yang masih bisa kami temui di beberapa tempat di Aceh. Ada kuburan masal di Ulee Lheue yang menjadi tempat istirahat terakhir ribuan korban. Sempat pula kami mampir di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, satu2nya bangunan tersisa di kawasan tsb saat tsunami.

Sesampainya turun angkot di pelabuhan Ulee Lheue, perhatian kami serta merta beralih, dari indahnya pelabuhan yang sedang tumbuh menuju ”kapal itu mau kemana ya, ikut yuk”. Saat itu terdapat dua kapal yang bersandar, yang satu kapal fery yang besar dah siap berangkat, yang satu kapal cepat yang kayaknya masih sepi penumpang. Tanya sana-sini orang di sekitar, lalu ke loket dan ada wartawan pula yang baik hati menjelaskan.

Ternyata kapal-kapal itu mau ke Pulau Weh, kota Sabang. Sontak, rasa pengin itu menggelora, mumpung dah sampai sini. Ditambah lagi informasi bahwa pulau Weh (pulau sedikit menyerupai kayak huruf W) adalah pulau paling barat Indonesia, disana ada ujung KM 0 bagi NKRI (ingat dari Sabang sampai Merauke). Kalau sudah ke kota Sabang, maknanya kapan2 tinggal ke kota Merauke hehe lengkap dah dari Sabang sampai Merauke.

Kami segera mengkonfirmasi tiket dan jadwal berangkat, kalo Feri BRR perjalanan 2 jam Rp 18.500/28.000/36.500 (ekonomi/bisnis/eksekutif), adanya tinggal kelas eksekutif. Kalau Speed boat Pulo Rondo 45 menit Rp 65.000/75.000/85.000 (bisnis/eksekutif/VIP). Kita cari yang segera dan dah siap berangkat aja, yaitu fery BRR eksekutif @ Rp 36.500.

Nggak nyangka, ke Sabang pula kami, alhamdulillah.

Mengelilingi Baiturrahman; dapat peta, sarapan, souvenir



Suasana pagi banyak yang berfoto-foto ria juga [mungkin juga pendatang dan pelancong kayak kami]. Setelah puas foto diluar dan di dalam masjid, saatnya kami berurai keluar masjid. Kalo hotel kami disisi utara masjid, saatnya sekarang kami berurarai ke selatan masjid.

Eit, ada toko souvenir Aceh, boleh dong untuk referensi belanja nanti siang ato sore, terutama tas utk oleh saudara2 istri, kami mborong banyak bangets.
Sambil jalan2 lagi, terlihat di ujung jalan ada bangunan menarik kayak museum tsunami, tanya orang, alhamd ternyata benar dugaan kami, jarak hanya sekira 500 meter di selatan Masjid Baiturrahman.

Namun semuanya keinginan jalan2 ditunda dulu, saatnya makan lontong sayur dan hagatnya teh Rp 16.000 berdua di warung sebelah barat masjid sambil baca koran Seranbi Pase, koran lokal Aceh. Tak lupa disisi barat masjid ada Pasar Atjeh, pasar tertua di Banda Aceh.

Alhamdulillah, sekarang sekeliling daerah sisi masjid dari 4 penjuru (timur-barat, utara-selatan) sudah kita kuasai hehe.

Kami benernya sebelum berangkat telah berusaha mencari peta Aceh dan khususnya Banda Aceh, namun belum mendapatkan yang lengkap dengan resolusi tinggi. Alhamd, deket hotel saat jalan pulang, kami menjumpai toko buku, ada disana peta Aceh propinsi dan Kota Banda Aceh @ Rp 28.000. Lumayan untuk memantapkan arah dan tujuan selama di Aceh.

Alhamd pula, abang penjaga toko sangat ramah menjawab pertanyaan2 kami seputar tempat-tempat tujuan yang bisa kita singgahi, terutama untuk mengenang tsunami 26 Desember 2004 (6 tahun lalu). Kami juga tanya sedikit banyak terkait dengan angkutan-angkutan untuk mencapai tujuan2 tsb. Ada becak motor, penumpang max 2 orang ada di samping [di Medan juga ada] bisa mengantar kemanapun kita pergi dengan tarif biasa sesuai jarak. Ada labi-labi (angkutan kota) berbagai penjuru dengan tarif murah, terminal ada di Keudah dekat (sekira 300m) dengan hotel kami.

Depan hotel pula kami dapatkan toko souvenir aceh, lumayan untuk membandingkan harga dan saling melengkapi koleksi souvenir.

Shubuh di Masjid Baiturrahman





Kami dah siap jam 5 pagi untuk sholat Shubuh di Masjid Baiturrahman, tapi kok tidak terdengar adzan ya, mestinya dalam perhitungan kami belum kelewat. [Kami perkirakan, jika sebulan lalu di Jogja Shubuh jam 3.50, mungkin di Aceh karena jauh lebih barat mungkin shubuh jam5]. Namun kami tunggu lama takda adzan, akhirnya jam 5.10 kira-kira baru adzan, dah ngitu ngaji lama, o.. maknanya yang tadi adalah adzan awal sebelum adzan shubuh beneran.

Saat itu jamaah sudah ramai, banyak yang dah sholat fajar dan berdoa, sambil diiringi lantunan bacaan ayat Al Quran yang merdu. Tepat jam 5.30, dikumandangkan adzan shubuh yang sangat merdu dan mendayu-dayu, panjang sekali tarikan nafas sang bilal. Kemudian dilanjutkan sholat shubh berjamaah dan ceramah pagi.

Masjid Baiturrahman dalamnya terasa besar dan sangat megah, banyak tiang semakin memantapkan bangunan tersebut. Jamaah ramai walaupun shubuh apalagi sholat wajib lain. Cuman sayang toilet sangat terbatas, sedangkan tempat wudhu banyak tapi kurang bersih dikit, mungkin saking banyaknya pengunjung.

Friday, January 1, 2010

Jembatan Aceh; cantik warna warni lampu





Menikmati malam hari, setelah isya, kami jalan2 di kompleks masjid Baiturrahman. Tambah bagus aja ini masjid di malam hari dilengkapi dengan sinar lampu, subhanallah.

Kami lalu jalan kaki menyusuri jembatan Sungai Aceh, wow keren banget. Jembatan kayaknya masih baru dan kokoh. Yang lebih menarik lagi adalah lampu-lampunya di atas jembatan, juga tiang-tiang lampu di atas jalan yang artistik.

Eh, takcukup disitu, di pinggir-bawah jembatan seolah untuk menerangi kapal yang lewat, ada disitu lampu warna-warna yang indah banget membuat warna-warni air sungai, juga memberikan efek bangunan-bangunan deket sungai sehingga tampak berubah-ubah warnanya.

Di seberang jembatan ternyata daerahnya juga ramai banget. Ada tugu di tengah simpang lima (gaktahu tugu apa ya namanya?). Ada banyak tempat makan, ada waterboom, ada hotel juga [tapi lebih mahal euy]. Ada mall Pante Pirak yang ramai benget, orang kemruyuk disitu, kayak suasana mau lebaran. Ada juga tempat kongkow2 anak muda. Kami cuma lewat aja, jalan kaki, dan mampir di mall sebentar untuk beli buah, makanan, minuman, pakaian untuk persediaan selama 3 hari.

Cari Hotel, utara Masjid, samping Pasar Atjeh




Setelah Masjid Baiturrahman, perburuan selanjutnya adalah mencari tempat bersandar dan berlabuh untuk menginap. Berdasarkan informasi kasir di warung padang, ada hotel di kanan masjid, samping Bank BRI.

Kami sisir jalan disamping utara masjid, takhenti2 kami foto masjid. Subhanallah, melewati pasar Atjeh yang terletak persis di sebelah kanan masjid. Ini juga salah satu icon Banda Aceh. Pasar Atjeh khas dengan toko emas yang sangat banyak (sayang jalanan berdebu karena jalan rusak). Kalo malam banyak orang jualan baju dll seperti pasar malam. Yang juga khas adalah beberapa pedagang (susur?) menempati rumah2an kecil yang bagus banget motifnya.

Nah, masuk sedikit dari pasar Atjeh, di Jl. Cut Meutia, disitu ada Hotel Lading [awalnya kami dengernya Hotel Aladin]. Takada hotel lain yang kami lihat di dearah situ. Kayaknya ini memang hotel satu2nya dan terbesar di daerah situ. Lokasinya bagus, depan sungai Aceh, dekat dengan fasilitas perbankan, masjid, pasar,..

Tarif termurah, kamar tanpa AC dengan 3 tempat tidur Rp 150.000, sedang jika menggunakan AC Rp 225.000. Superior room Rp 300.000, dan paling mahal family/deluxe room Rp 350.000. Untuk mencoba rasa dan meningkatkan rasa syukur, kami gunakan yang murah pada malam pertama dan yang mahal pada malam kedua.

Berdasarkan informasi dari resepsionis, Hotel Lading dulu kena tsunami juga, tinggi air sampai 3 meter menenggelamkan bangunan lantai 1 pada bangunan 4 lantai tersebut. Alhamd takada korban jiwa saat itu karena semua orang langsung naik ke lantai 4.

Saatnya mandi dan rehat sejenak, kenalan dengan Banda Aceh dilanjutkan lagi ntar malam.

Masjid Besar Baiturrahman




Dari Airport memakan waktu sekira 30 menit naik mobil ke Masjid Baiturrahman di pusat kota Banda Aceh. Subhanallah bisa menikmati indahnya alam Aceh. Subhanallah kami benar-benar berada di kompleks Masjid Besar Baiturrahman, sekarang kami benar2 disini, bukan hanya liat di gambar atau di televisi.

Masjid Besar Baiturrahman berada di pusat kota dan merupakan icon utama Banda Aceh. Subhanallah sedemikian megahnya Masjid Besar Baiturrahman. Ruangan majid sangat besar, halaman sangat luas, ada 4 pintu dari 4 penjuru masjid.

Menurut cerita banyak sumber, saat tsunami masjid ini terbebas dari hembasan air tsunami, padahal tepat di luar bangunan masjid, tepatnya di bagian kolam air depan masjid, bahkan diluar pagar masjid, berserakan sebegitu banyak manusia maupun puing2 atau barang2 yang terseret tsunami dari pantai. Pantai terdekat dan terparah dilanda tsunami adalah pantai Ulee Lheue yang berjarak sekira 10 km.

Banyak pendatang maupun penduduk yang mengunakan areal halaman dan rerumputan masjid untuk mengadakan silarurahmi ataupun sekedar bincang-bincang dan makan bersama. Kami juga taksabar untuk mencicipi makan di bumi Aceh, segera mencari warung makan. Untuk kemudian hunting mencari tempat berlabuh (penginapan/hotel).

Alhamdulillah terlihat ada warung padang persis di depan gerbang timur masjid, tempat menginjak kaki saat pertama kami turun dari taxi. (warung Padang gakpapa, yang jual orang Jawa gakpapa, tapi makannya khan tetep di Aceh). Alhamd enak banget. Rp 30.000 berdua, rata2 segitu harga sekali makan di Aceh.

Untuk sementara yang ditampilkan adalah foto2 dari area luar kompleks masjid, foto yang lebih bagus dari pelataran masjid, bahkan di dalam masjid,.... sabar dulu yah.

Maafkan kami pak sopir taxi, smg pahala bagi dirimu

Icon yang terbayang di benak kami ketika mendengar Banda Aceh adalah Masjid Baiturrahman. Yah begitulah, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk pertama-tama menuju ke Masjid Baiturrahman di pusat Kota Banda Aceh.

Tapi sayang sekali, di internet maupun di airport SIM, saya tidak mendapatkan peta detail beserta pilihan angkutan untuk memudahkan meng-eksplore keindahan Aceh.
Di Airport, (mungkin ada, tapi) kami gak liat ada taxi bener2 ada tulisannya ”TAXI”, gaktahu dimana kaunter taxi, juga tak tahu persis bayar berapa kalo ke kota (ada kawan bilang; taxi Rp 25.000, angkutan kota Rp 10.000 tapi harus keluar dulu dari arena bandara).

Tatkala ada orang setia mengikuti kami keluar airport, menawarkan jasa taxi Rp 70.000, saya jadi heran, kok mahal ya. Kami juga ditunjukkan satu lembar tarif resmi (dia bilang begitu) bahwa Airpot-Kota Rp 70.000, gaktahu benar-tidaknya.

Akhirnya kami rehat dulu di kursi pengunjung di luar, eh masih dikuntit. Mau ke toilet juga dikuntit, wah setia sekali bapak ini cari penumpang. Akhirnya kami coba tawar dan dapat harga Rp 50.000. saat itu kami senang berhasil menawar.

[namun akhirnya kami menyesal, kenapa kami pelit banget saat itu. Padahal tarif Rp 70.000 kayaknya itu memang tarif resmi, soalnya ketika kami coba tanya ke resepsionis hotel tempat kami menginap saat kami mau balik minta dicarikan taxi ke airport, harganya memang segitu. Maafkn kami saudaraku, semoga menjadi pahala kebaikan bagimu, amien]

Airport Banda Aceh: Sultan Iskandar Muda

Cerita tentang Aceh, saya mulai dari Airport. Nama airport diambil dari nama Pahlawan Besar dari Aceh, yaitu Sultan Iskandar Muda (SIM). Airport SIM ini terletak di daerah Blang Bintang, masuk Kabupaten Aceh Besar. Kab. Aceh Besar sangat luas, daerahnya melingkupi Kota Banda Aceh di sisi timur-barat dan selatan.

Airport SIM sangat bagus dan megah, padahal pembangunan belum selesai. Terbayang, betapa indahnya kelak jika benar-benar telah selesai semua pembangunannya, bisa jadi bandara termegah di Sumatera. Landasan pacu juga panjang banget. Ruang check-in bagus, ruang tunggu bagus lengkap dengan seni atap dan tiang-tiangnya. Halaman parkir sangat luas.

Thn baru ke Banda Aceh




Alhamdulillaahi rabbil 'aalamien....
Kami mendarat dengan selamat di Airport Sultan Iskandar Muda (SIM) dengan penerbangan Air Asia AK 305 Kuala Lumpur to Banda Aceh, perjalanan sekira 1.5 jam. Subhanallah, kesampaian juga akhirnya saya dan istri menginjakkan kaki di bumi Aceh, tanah rencong, Serambi Mekah, provinsi paling ujung utara-barat Republik Indonesia.

Tahun baru 2010, seperti biasa kami lewatkan biasa saja, takpernah menantikan teriakan/kongkow2 anak-anak muda, terompet, ataupun kembang api yang mubadzir. Justru, kami lebih suka jalan2 aja menikmati indahnya karunia Allah, berupa kekayaan alam dan budaya Indonesia, soalnya penjelajahan Malaysia sudah kelar.

Jika Tahun baru 2009 lalu kami ke Tanjung Balai Karimun dan Batam (Prov. Kepulauan Riau), tahun baru 2010 kami ke Banda Aceh (Prov. Nanggroe Aceh Darussalam). Untuk tahun2 selanjutnya akan diselesaikan seluruh daerah dari provinsi Aceh hingga Papua, dari kota Sabang sampe Merauke.

Ingat Aceh, ingat Masjid Besar Baiturrahman, tsunami 26 Desember 2004 (6 thn lalu), Pulau Sabang (lagu: dari Sabang sampe Merauke), dll..... semua ada disana dan Alhamdulillah bisa kami kunjungi.

[perjalanan dan pengalaman kami akan diceritakan dalam beberapa postingan bertahap disela-sela writing thesis; kalo lagi tak mood nulis thesis, energi positif dilarikan ke nulis blog]

Wednesday, December 30, 2009

Selamat jalan Gus Dur

Dari berbagai sumber berita:

innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun....
Telah meninggal dunia
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam usia 83 tahun.
Presiden RI ke-4

Semoga diterima dan dlipatgandakan semua amal ibadah, diampuni segala dosa, amien.

semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan mempersiapkan diri dengan baik...

"kita yang masih hidup sebenarnya tinggal menunggu giliran"

Sunday, December 27, 2009

Perlunya Web Check-in (Online)

Mulai lebaran kemarin, setiap hendak pergi menggunakan jasa penerbangan, jika ada kemudahan koneksi internet, saya menggunakan fasilitas web check-n (atau check in online). Lumayan membuat kita lebih leluasa datang ke airport takburu-buru mesti 45 menit sebelum penerbangan.

Saat bawa bagasi, baru kita mesti ikut aturan check-in 2jam hingga 45 menit sebelum takeoff, tapi jika tanpa bagasi, saya dah menanyakan ke kaunter bahwa takperlu mampir ke kaunter check-in lagi, boleh langsung ke imigrasi dan ruang tunggu.

Pengalaman-pengalaman pahit terlambat ke airport ini mungkin perlu kita jadikan pelajaran betapa pentingnya web check-in;
1. temen kost 2 orang nak balik kampung ke Sabah, terlambat ke airport karena jam, hanguslah tiket, mesti beli lagi utk hari lain.

2. teman ketinggalan pesawat karena datang 35 menit sebelum takeoff, kaunter dah tutup, akhirnya mesti cari penerbangan lain, dah tertunda, suruh bayar lagi.

Tapi yang penting dari kesemuanya itu adalah "datang awal dan menunggu di airport lebih baik, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (misalnya, macet jalan atau ngadat kendaraan)"

Friday, December 25, 2009

PPI UTM; Lomba 6 sehat 7 sempurna

25-27 Desember 2009, PPI UTM ngadakan lomba 6 sehat 7 sempurna.

Beberapa cabang dilombakan, yang saya ikuti adalah
1. Futsal, merger dg kelompok lawan sama2 postgraduate, maju semifinal tapi kalah 3-2 dari temen2 S1, diminta tanding untuk rebut juara 3 dah takda cukup stamina, kita ikhlas aja, nomor 4 takpelah

2. Bulutangkis, masuk babak kualifikasi berpasangan dengan Anas Albatamy melawan duet Pak Heru/Ahmad, kami kalah. Mencoba peruntungan dengan mengikuti kualifikasi lagi dengan berpasangan dengan pak Anton melawan duet pak Prabowo/Novizon, kalah lagi.... waduh kok kalah terus kie

3. Tennis, karena waktu tanding bersamaan dengan futsal, dengan kebesaran jiwa kami kalah W-O hehehe

4-5-6 Pingpong, Volley, Basket nggak bisa dan nggak ikut.

7. Lomba masak... nggak suka masak, sukanya makan masakan hehe.

Alhamdulillah badan serasa enak n seger setelah olahraga [harusnya]. Nyatanya pegel2 juga nih.

Sunday, December 20, 2009

Sunway Lagoon





Inilah tempat permainan yang seru, tapi mbayarnya juga mahal rek....